PEKANBARU – Musim libur sekolah yang biasanya menjadi momentum emas bagi industri pariwisata justru dibayangi lesunya minat perjalanan wisatawan domestik. Tingginya harga tiket pesawat dan tekanan ekonomi membuat banyak masyarakat mulai menahan rencana bepergian.
Kondisi ini mulai dirasakan para pelaku industri perjalanan di Riau. Agen travel menyebut permintaan wisata menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, meski keinginan masyarakat untuk berlibur sebenarnya masih cukup tinggi.
“Kalau kita bicara pariwisata di Indonesia, sebenarnya yang paling penting itu kontribusi perjalanan wisatawan nusantara. Namun yang ada sekarang tiket pesawat rute domestik mahal sekali,” ujar Ketua DPD Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Riau, Harpina Diansari, Jumat (15/5/2026).
Menurut Harpina, melemahnya daya beli masyarakat menjadi tantangan serius bagi sektor pariwisata nasional. Ketika kebutuhan pokok dan biaya hidup meningkat, masyarakat cenderung menunda agenda liburan.
CEO Aras Hijrah Holidays itu mengungkapkan, penurunan permintaan perjalanan mulai terasa dalam beberapa waktu terakhir. Meski masih ada transaksi perjalanan, jumlahnya tidak lagi sebesar sebelumnya.
“Permintaan masih ada, meskipun ada penurunan,” ujarnya.
Lonjakan harga tiket pesawat menjadi keluhan utama masyarakat. Untuk rute Pekanbaru–Yogyakarta misalnya, tiket pulang-pergi kini menembus Rp4,5 juta, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp2,7 juta hingga Rp3 juta.
Kenaikan serupa juga terjadi pada rute Pekanbaru–Jakarta yang kini mencapai sekitar Rp4 juta PP dari sebelumnya Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Sementara tiket Pekanbaru–Batam yang dulu berkisar Rp1,4 juta PP kini mendekati Rp2 juta dari Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
Tak hanya wisatawan, mahalnya tiket pesawat juga mulai dikeluhkan kalangan instansi dan pelaku perjalanan dinas.
“Orang dinas-dinas sudah banyak yang mengeluh, saya juga sampaikan memang begitu kondisinya. Mereka juga bisa cek lewat online. Bahkan agen dari Bali sampai kontak saya menanyakan apakah ada grup yang berangkat ke sana. Saya jelaskan kondisi sekarang, tiket Pekanbaru ke Bali saja sudah hampir Rp7 juta PP kan. Orang tentu mikirnya mending sekalian ke Malaysia, uang segitu bisa untuk tiket beberapa orang ke Kuala Lumpur PP. Jadi kita ya ada permintaan alhamdulillah, kalau sepi ya mau gimana lagi,” ujarnya.
Harpina memperkirakan penurunan permintaan perjalanan saat ini mencapai 20 hingga 25 persen. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi banyak faktor mulai dari kenaikan harga avtur, tingginya kurs dolar, kenaikan BBM, kondisi ekonomi global, hingga situasi geopolitik dunia.
Meski demikian, ia menilai minat masyarakat untuk bepergian sebenarnya belum hilang. Banyak calon wisatawan hanya memilih menunda keberangkatan atau mengalihkan anggaran liburan untuk kebutuhan yang dianggap lebih prioritas.
Di sisi lain, tren pergeseran destinasi wisata juga mulai terlihat. Wisatawan kini lebih selektif memilih tujuan yang dianggap lebih hemat dan ramah di kantong. Negara tetangga seperti Malaysia bahkan masih menjadi pilihan favorit sebagian warga Riau karena biaya perjalanan yang dinilai lebih kompetitif dibanding sejumlah destinasi domestik.
Fenomena ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk berwisata belum sepenuhnya padam. Namun di tengah tekanan ekonomi, faktor biaya kini menjadi penentu utama sebelum seseorang memutuskan untuk bepergian.
Sementara itu, pelaku industri perjalanan terus berupaya bertahan dengan menyesuaikan pola layanan dan strategi usaha agar perlambatan sektor pariwisata tidak semakin dalam. (Rls)
